Badantam Sebagai Wujud Gotong Royong Masyarakat Ulakan Tapakih Dalam Sebuah Perhelatan

Dantam Korong

filter: 0; jpegRotation: 0; fileterIntensity: 0.000000; filterMask: 0; module:1facing:0; hw-remosaic: 0; touch: (-1.0, -1.0); modeInfo: ; sceneMode: NightHDR; cct_value: 0; AI_Scene: (-1, -1); aec_lux: 50.0; hist255: 0.0; hist252~255: 0.0; hist0~15: 0.0;

suaragerakan.com, Ulakan Tapakih, Setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas dan budaya tersendiri yang berbeda dengan daerah lainnya. Ciri khas ini bisa berupa budaya warisan benda dan juga tak benda. Ini semua terdapat disemua daerah di Indonesia semisalnya saja di Sumatera Barat.

Di beberapa daerah di Sumatera Barat seperti di Padang Pariaman, khususnya di kecamatan Ulakan Tapakih juga memiliki budaya yang unik dan memiliki nilai sosial yang tinggi.

Di kecamatan ini terdapat sebuah budaya yang telah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Ulakan Tapakih. Budaya ini berupa budaya gotong royong dalam memeriahkan perhelatan pernikahan salah seorang masyarakat di kecamatan tersebut. Kegiatan ini disebut dengan badantam atau yang masyarakat Padang Pariaman secara luas menyebutnya dengan istilah badoncek atau bareng. Namun kata badantam ini secara umum dipakai di semua korong di Kecamatan Ulakan Tapakih termasuk korong Gantiang Tangah Padang Nagari Ulakan.

Kegiatan badantam ini dilakukan saat perhelatan seperti pernikahan, batagak kudo-kudo rumah (pesta akan memasang atab rumah) dan lainnya. Kegiatan badantam ini sendiri dilakukan dimana masyarakat berbondong-bondong datang ke lokasi pesta dengan mengisi buku dantam kelompok yang kemudian dibacakan oleh ketua dantam dengan menggunakan pengeras suara.

Salah seorang tokoh masyarakat korong Gantiang Tangah Padang Nagari Ulakan yang juga merupakan ketua dantam menyampaikan bahwa kegiatan badantam di korong ini sudah dimulai sejak tahun 1976 dan hingga saat ini masih terus dilakukan.

Tak tanggung tanggung, hasil pendapatan dari badantam ini bisa mencapai ratusan juta seperti yang didapat pada pesta pernikahan salah seorang warga yang bersuku Jambak Gantiang Korong Gantiang Tangah Padang Nagari Ulakan beberapa waktu lalu (12/09). Dengan hasil begitu tentu saja telah membuktikan bahwa tak ada pesta pernikahan di Pariaman yang rugi sebagimana jargon Pariaman yang menyebutkan bahwa “indak ado Alek di Pariaman yang rugi”¬†karena semua masyarakat ikut serta memeriahkan perhelatan dengan badantam ini.

Ini menunjukkan nilai gotong royong yang terbangun di masyarakat sebagai bentuk kearifan lokal yang telah mapan sehingga ada sebuah sebutan bahwa pesta pernikahan yang dilakukan adalah pesta kampung atau di alek kan oleh orang kampung.

Namun hal yang mesti kita bedakan bahwa dantam ini belum termasuk uang dari kotak yang di isi oleh para undangan lainnya yang datang ke pesta pernikahan. Karena yang ikut dantam ini biasanya adalah masyarakat korong setempat dan juga dari korong dari bako atau korong dari ayah mempelai yang melangsungkan pernikahan. Sementara undangan lain tidak ikut dantam dan hanya mengisi kotak yang telah tersedia di lokasi.

Hasil dantam korong sendiri nantinya diserahkan oleh panitia dantam kepada tuan rumah atau sebutan masyarakat lokal disebut silang sapangka karakok nan bajunjuang yang nantinya dipergunakan untuk pembiayaan perhelatan dan kebutuhan lainnya.

Penulis: Syahrul MubarakEditor: SM Panyalai
----